TERIMA KASIH BUNG ALEX NOERDIN

Berita Daerah Opini

Selasarsumsel.id,Palembang Tinggal menunggu waktu Gubernur sumatera selatan, Alex Noerdin akan menanggalkan serta mengalihkan jabatan-nya kepada Gubernur terpilih, hasil pemilihan kepala daerah beberapa waktu yang lalu. Melalui tulisan singkat ini akan coba diulas catatan di perjalanan akhir pengabdian dan dedikasi seorang Gubernur sumatera selatan 2 (dua) periode di akhir masa kepemimpinan-nya.

Sebelumnya, saya ingin coba terlebih dahulu mengulas alasan penggunan judul dengan konten yang tidak terlalu formal (kaku) di atas, di mana memang mulanya, saya ingin menggunakan narasi formal dengan konten, ‘Terima Kasih Pak Alex Noerdin’, namun seketika saya mengubah sebuatan yang sedikit formal dan kaku tersebut, dengan sebutan Bung Alex Noerdin, dikarenakan ingatan dalam memoar saya, ketika menyaksikan tayangan ulang interview dalam satu satu acara talkshow IMPACT sekitar 5 6 tahun yang lalu, antara Peter Gontha dengan Alex Noerdin, di mana dalam wawancara ekslusif tersebut Pak Gubernur dipanggil dengan sebutan Bung Alex.

Sebutan ini tentu memiliki arti tersendiri, yang mana juga dalam acara tersebut, Bung Alex sangat lugas dan enjoy dengan panggilan tersebut. Oleh karenanya dalam tulisan singkat ini perkenankan saya menggunakan panggilan tersebut, bukan dalam arti tidak respect (menghormati dan menghargai) dari aspek usia, status sosial, dsb, namun rasanya selain lebih fresh untuk didengar, panggilan tersebut juga sangat cocok bagi orang-orang yang memang memiliki visi yang progresif dalam bidang pembangunan, khususnya untuk Bung Alex, salah satu tokoh visioner dalam bidang pembangunan di sumatera selatan.

Selanjutnya, perlu juga untuk diketengahkan narasi dalam tulisan ini yang sebenarnya bernilai objektif, pure hanya merupakan catatan singkat dan sederhana, yang tidak memiliki nilai politis/kepentingan tertentu. Begitupun dengan konten tulisan ini yang secara garis besar tidak akan banyak mengulas secara komprehensif ataupun mempersoalkan terkait dengan track record dari perjalanan panjang Bung Alex selama 2 (dua) periode memimpin sumatera selatan, baik itu yang terkait keberhasilan selama memimpin, hal hal yang belum tercapai, ataupun berbagai problematika lainnya yang ada, oleh karenanya tidak akan sejauh itu.

Tulisan singkat ini, tidak lain hanya ingin kembali mengingatkan untuk belajar menghargai serta mengapresiasi segala bentuk pengabdian dan dedikasi yang sudah dijalankan Bung Alex selama memimpin sebagai Gubernur sumatera selatan. Bagaimanapun 10 tahun Bung Alex menduduki posisi Gubernur telah mengubah wajah sumatera selatan, menjadi salah satu provinsi yang boleh dibilang popularitas-nya hampir tidak kalah dengan ibukota (jakarta) bahkan mendunia, sumatera selatan menjadi salah satu icon di Indonesia, bahkan dunia.

Tidak hanya soal popularitas (familiar), namun memang progress pembangunan yang ada di sumatera selatan juga dibilang tidak kalah dengan provinsi yang ada di pulau Jawa ataupun ibukota Jakarta, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Tidak berhenti di situ saja, meskipun tulisan ini tidak menghadirkan gambaran data secara valid dan rigid, namun secara kualitatif, 2 (dua) periode kepemimpinan Bung Alex, telah mampu menghadirkan dan menjamin kondusifitas sumatera selatan di 17 kabupaten/kota yang ada, hampir tidak pernah kita mendengar chaos ataupun konflik horizontal yang berkelanjutan yang terjadi di wilayah sumatera selatan (zero conflict).

Keseriusan dan konsistensi arah pengembangan serta pembangunan di sumatera selatan pada bidang olahraga (sport), juga perlu menjadi attensi dan haruslah diberikan apresiasi tersendiri. Dengan tanpa menafihkan pembangunan pada sektor strategis dan prioritas lainnya, namun sumatera selatan di bawah kepemimpinan Bung Alex, mampu menghadirkan penyelenggaraan berbagai event olahraga internasional secara continue (berkelanjutan).

Posisi sumatera selatan sebagai tuan rumah dari berbagai event olahraga internasional, tentu memberikan intensif dan stimulus tersendiri bagi sumatera selatan. Kejelian, keuletan dan keseriusan Bung Alex untuk memaksimalkan peluang sekecil apapun, serta meyakinkan stakeholder terkait untuk menjadi tuan rumah di berbagai event olahraga internasional, secara tidak langsung akan membawa konsekuensi lanjutan secara positif dan konstruktif bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di sumatera selatan.

Pastinya, bukan barang mudah untuk meyakinkan berbagai stakeholder guna mengarahkan dan membawa penyelenggaraan suatu event olahraga internasional agar dilaksanakan di sumatera selatan, begitupun dengan jaminan suksesnya penyelenggaraan suatu event olahraga yang berkelas internasional. Dapat dilihat tentu daerah lain, provinsi lain pastinya juga ikut (bersaing) dan berkeinginan untuk menjadikan daerahnya menjadi tuan rumah penyelenggaraan suatu event internasional.

Tentu, konsep dan pengembangan kota palembang yang merupakan ibukota sumatera selatan menuju kota olahraga (sport city), haruslah tetap didukung, dilanjutkan serta dikembangkan. Catatan kritis terhadap pola pembangunan yang sentralisitik, yang hanya fokus pada ibukota sumatera selatan, palembang, perlu lah juga untuk dilihat sebagai realitas aktual yang tidak dapat dihindarkan. Mengapa demikian ?

Secara prinsip, dapat dilihat bahwa fokus dan prioritas pembangunan yang ada di palembang lebih tertuju dan dititikberatkan pada infrastruktur olahraga, dalam arti sarana dan prasarana olahraga, baik itu venue dan fasilitas olahraga lainnya. Hal tersebut memang haruslah demikian adanya, pola dan sistem pembangunan infrastruktur olahraga yang tidak dibangun secara terpadu dan terintegrasi dalam satu kawasan (wilayah), pada akhirnya tidak akan teraktualisasi dan teraplikasi secara optimal.

Hal ini berarti bahwa, pada akhirnya sangat dikhawatirkan infrastruktur tersebut tidak dapat digunakan secara maksimal dan berkelanjutan secara periodik, bahkan pada akhirnya akan menjadi tidak terpakai dan sia sia, dapat dilihat banyak contoh pola pembangunan sarana olahraga di berbagai daerah (wilayah) yang tidak dibangun dalam satu kawasan terpadu secara integral, yang mana ketika penyelenggaraan event olahraga tersebut berakhir, maka berakhir juga penggunaan venue olahraga tersebut, tidak ada pengembangan dan pemeliharaan (maintenance) lebih lanjut.

Memahami pola pembangunan infrastuktur olahraga yang terintegrasi (sentralistik), tentu tidak dapat serta merta dikaitkan dengan pola pemerataan pembangunan yang ideal. Karena hal tersebut akan salah alamat dan justru akan menimbulkan inefisiensi, baik dalam arti pemborosan anggaran yang telah dikeluarkan guna pembangunan tersebut, maupun tidak efektifnya penggunaan infrasturktur tersebut setelah penyelenggaraan suatu event olahraga. Jadi, memang sebagai bahan koreksi, sistem dan pola pembangunan yang dijalankan selama kepemimpinan Bung Alex, terkhusus pada bidang sport (olahraga), tidaklah dapat dilihat sebagai sebuah misspersepsi dan fallacy, akan tetapi justru pola pembangunan tersebut haruslah menjadi landmark dan percontohan dari pola pembangunan di daerah (wilayah) lainnya.

Memahami pola dan sistem pembangunan yang dijalankan selama kepemimpinan Bung Alex juga secara langsung terkait dengan gaya kepemimpinan (style leadership), yang mana tentu tidaklah sama dengan setiap orang, dan pastinya memiliki karakter (idektik) serta ciri khas masing-masing. Terpenting satu hal yang patut digarisbawahi, bahwa semua pembangunan tersebut, baik fisik (infrastruktur) ataupun non-fisik ditujukan untuk kepentingan masyarakat (umum), bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Sebelum mengakhiri tulisan singkat ini, rasanya perlu diinsyafi satu hal sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Liu Shao-Chi, mantan Presiden China pada juli 1947 yang mengatakan bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, baik masa lalu maupun sekarang, baik di China maupun di tempat lainnya. Hal yang senada yang juga ditulis oleh Barry Kaplan dan Jeff Manchester dalam buku The Power of Vulnerability, yang mana secara kontekstual menyatakan bahwa tidak ada pemimpin yang dapat menjawab semua persoalan yang dihadapinya, artinya pasti akan ada kelebihan dan kekurangan, pro dan kontra, like or dislike dalam setiap masa kepemimpinan.

Oleh karena, pada masa kepemimpinan Bung Alex di balik kesukseskan dan keberhasilan di beberapa bidang/sektor strategis, pasti akan ada juga pencapaian yang tidak maksimal pada sektor lainnya. Sebagaimana yang dikatakan tadi, bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, setiap masa kepemimpinan pasti akan ada kelebihan dan kekurangan, keberhasilan dan ketidakpuasan, semua hal itu merupakan hal yang lazim dan lumrah.

Terkahir, terlepas dari faktor like or dislike, marilah kita berikan apresiasi dan penghargaan kepada Bung Alex, Gubernur sumatera selatan yang telah memimpin selama 2 (dua) periode, dengan berbagai legacy yang ditinggalkannya. Bagi saya secara pribadi, catatan singkat ini ditulis juga sebagai salah satu cara guna memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih, lantas bagaimana dengan anda ?

Sekali lagi terima kasih Bung Alex atas dedikasi dan pengabdiannya terhadap sumatera selatan. Jangan berhenti berkontribusi dan berdedikasi untuk sumatera selatan khususnya. Selamat mengabdi di ruang dan tempat yang baru.

Oleh : RIO CHANDRA KESUMA, S.H., M.H. C. L. A.***
*** PENULIS IALAH PRAKTISI HUKUM, PEMERHATI SOSIAL & TENAGA AHLI DPR RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *