Semangat Milenial, Semangat Kepahlawanan

Opini

Jakarta, selasarsumsel.id – 10 November sebagai hari pahlawan selalu diperingati sebagai momentum mengenang jasa para pahlawan yang telah ‘gugur’ dalam memperjuangkan serta mempertahankan Kemerdekaan. Berbagai peringatan ceremonial dilakukan guna memperingati hari pahlawan.

Dapat dilihat bahwasan-nya, semakin hari kualitas dan mutu peringatan momentum hari pahlawan, semakin tidak memberikan arti dan makna yang real bagi publik/lingkungan masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

ISU KRUSIAL

Penghayatan dan penghormatan secara lebih jauh terhadap jasa para pahlawan, rasanya hanya dianggap sebagai ‘angin lalu’, senada dengan hiruk pikuk peringatan hari pahlawan itu sendiri yang terkesan hanya sebagai formalitas (semata).

Begitupun dengan generasi muda saat ini, atau yang lebih akrab (populer) dikenal dengan istilah generasi millenial, yang juga tidak secara mendalam  menghayati serta mengilhami nilai historis dan semangat juang dari para pahlawan.

Berbicara generasi millenial, tentu merupakan salah satu aspek penting dalam melihat masa depan bangsa ini (forward looking), sebab generasi millenial yang dikenal dengan istilah generasi y, memiliki komposisi lebih dari sepertiga jumlah penduduk negeri ini, atau dalam data BAPENAS (2017), memiliki komposisi sekitar 34,45 persen atau setara dengan sekitar 90 juta penduduk Indonesia dalam usia produktif 18 – 38 tahun. Artinya, generasi milenial memiliki peranan yang cukup strategis dalam konteks mengisi dan melanjutkan kemerdekaan yang telah diwariskan oleh para pejuang/para pahlawan.

Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi kini, khususnya oleh para generasi milenial, ditengah era globalisasi, keterbukaan dan kebebasan ialah merosotnya nilai dan semangat kepahlawanan serta memudarnya karakter kebangsaan. Kecenderungan yang diikuti oleh modernisasi, perkembangan tekhnologi, terkhusus dalam dunia media sosial (sosmed), yang kini sangatlah dekat dengan dengan generasi milenial, tidaklah diimbangi dengan proses pendewasaan diri dan infiltrasi yang arif dan selektif.

PACEKLIK NILAI KEPAHLAWANAN

Sejatinya, pahlawan selalu identik dengan sikap dan nilai kesetiaan, pengorbanan, perjuangan (tulus), dan pengabdian. Hal tersebut tentu harus ditauladani oleh generasi saat ini, khususnya para generasi milenial maupun generasi mendatang.

Karakter kepahlawanan dapat dikenali dan distimulate dengan mendalami rentetan dan runtutan sejarah perjuangan ataupun mengenali serta menggali kisah perjuangan para pahlawan.

Namun, hal yang kontraproduktif terjadi pada hari ini, generasi milenial kini lebih mementingkan kepentingan pribadi (individualistis), lebih berorientasi kepada aspek matrealism (hedonisme), semakin memudarnya kegigihan (semangat juang), lemahnya pengabdian kepada sesuatu yang lebih besar/rasa patriotik (nasionalisme), kurangnya rasa kesetiakawanan dan rela berkorban, menipisnya semangat gotong royong, kerja keras dan terkesan apatis terhadap lingkungan serta ingin serba instan (seketika).

Hal ini diperkuat dengan survei yang pernah dirilis oleh PraPancha Research (PR), yang memperlihatkan bahwa adanya pergeseran makna terhadap arti pahlawan pada masa kini.

Hasil riset terhadap 4 (empat) juta perbincangan tentang pahlawan dan kepahlawanan di media sosial, memperlihatkan bahwa pahlawan pada masa kini adalah sosok pahlawan yang dikaitkan dengan tindakan ‘orang – orang biasa’, tapi sangat berarti bagi semua (liputan6.com, 2016).

Catatan tersebut juga pararel dengan realitas (sosial) lainnya, di mana berdasarkan jajak pendapat yang pernah dilakukan oleh litbang kompas beberapa waktu yang lalu, dalam hasil dan kesimpulannya menunjukkan bahwa para kaum elite yang memegang kekuasaan di negeri ini, memang belum mampu memberikan makna mendasar dari arti kepahlawanan itu sendiri. Ini menandakan bahwa telah terjadinya krisis nilai dan semangat kepahlawanan lintas generasi, baik dalam skala nasional maupun regional.

Saat ini generasi milenial tidak lagi memiliki keteladanan terhadap sosok yang mencerminkan sikap dan nilai kepahlawanan. Sosok pahlawan yang dapat dikagumi hanya dapat dijawab dari masa lalu, dan sulit untuk ditemukan pada masa kini.

Minimnya sosok yang dapat menjadi teladan bagi generasi milenial menjadikan penghayatan terhadap jiwa kepahlawanan di masyarakat masih sangat rendah. Ini lah tentunya yang memicu beberapa konflik horisontal yang nyaris terjadi, yang menyinggung isu sensitif, seperti isu SARA, yang tak lain disebabkan persoalan sepele yang bersumber dari melemahnya nilai dan semangat kepahlawanan. Sentimen primordialisme juga cukup kuat mengemuka akhir-akhir ini di berbagai forum dan ruang publik.

Pemerintah tampak tidak konsisten menanamkan nilai dan semangat kepahlawanan, katakanlah melalui bentuk bela negara misalkan ataupun melalui kurikulum sistem pendidikan.

Pemerintah tampaknya masih terkesan latah terhadap laju perekonomian dan pembangunan infrastruktur di segala bidang, yang tidak diimbangi dengan akselerasi sentuhan ataupun indoktrinasi nilai dan semangat kepahlawanan dalam sendi kehidupan masyarakat, khususnya bagi para generasi milenial.

Dapat dilihat beberapa program pemerintah terkait, seperti revolusi mental atupun aksi bela negara yang sempat digalakan di awal-awal pemerintahan ataupun beberapa gagasan dan terobosan (program) lainnya, di mana dapat dilihat senyatanya saat ini ‘jalan ditempat’, tanpa realisasi dan hasil yang konsisten dan berkelanjutan.

Rasanya beberapa program real pemerintah yang dapat diapresiasi, karena dapat menstimulate nilai dan semangat kepahlawanan, hanya terkesan basa basi (pencitraan) semata.

Begitupun dengan indoktrinasi nilai – nilai kepahlawanan di masyarakat saat ini, yang dibangun melalui sistem lembaga pendidikan, yang kian hari kian terasa longgar. Karakter kebangsaan yang merupakan perwujudan dari fanatisme kepahlawanan, bukanlah menjadi barang wajib yang harus ada di dalam sistem (kurikulum) pendidikan. Inilah fakta ironi hari ini, yang mungkin menjadi salah satu penyebab tradisi memori kepahlawanan di masyarakat kian hari semakin memudar dan terlupakan.

Padahal jikalau ingin berkaca dan melihat negara lain, seperti Jepang misalanya penetrasi nilai kepahlawan selalu dipupuk sedini mungkin salah satunya melalui sistem pendidikan, baik formal maupun informal. Begitupun di Amerika yang notabenenya sangat liberal dan individualistik, akan tetapi masih tetap bangga menceritakan kembali para tokoh bangsanya (pahlawannya).

Pada akhirnya sebelum menutup tulisan singkat ini, perlu kembali diresapi dan ditauladani nilai dan semangat kepahlawanan yang tetap harus ada dan dijaga dari waktu ke waktu, masa ke masa. Realitas kekinian tentu tidaklah seberat dengan apa yang harus dilalui pada masa lampau, tentu hari ini kita tidak diperhadapkan dengan perjuangan melalui pertempuran seperti dahulu. Namun, tanggung jawab dan tantangan hari ini, khususnya bagi generasi muda di era millenial saat ini, untuk dapat memberikan makna baru (redefinisi, reaktualisasi serta rekontekstualisasi) nilai dan semangat kepahlawanan. Marilah selalu kita jaga dan tauladani semangat dan perjuangan para pahlawan. Selamat memperingati hari pahlawan !

 

Oleh : Ir. Sri Meliyana ***

*** Penulis Adalah Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Asal Dapil Sumsel II

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *