Save Our Children, Gerakan Sosial untuk Belajar Merawat Indonesia

Opini

Palembang, selasarsumsel.id – Anak-anak merupakan asset bangsa yang harus dikelola dan dijaga untuk investasi SDM Indonesia masa depan, karena itu kita menyadari bahwa pentingnya menjaga regenerasi dan regenerasi inilah yang akan menjadi pemegang tongkat estafet perjalanan Indonesia. Di era millenial dewasa ini, anak-anak harus berjuang menghadapi tantangan sosial globalisasi yang telah bersiap-siap untuk merongrong mereka. Banyak sekali permasalahan – permasalahan hari ini yang dihadapi oleh anak-anak. Diberbagai media mainstream baik itu media cetak maupun dimedia elektronik hingga media sosial  banyak sekali pemberitaan yang mendera anak-anak, mulai  kasus penganiayaan, pornografi hingga tindak asusila. Khususnya di Sumatera Selatan, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sumatra Selatan, Susna Sudarti mengatakan, secara keseluruhan kekerasan pada perempuan dan anak di Sumatra Selatan mengalami peningkatan. Tercatat pada 2013 ada 883 kasus, 2014 ada 1.060 kasus, 2015 ada 1.037 kasus dan sekitar 500 kasus per 2016.

Tentu saja untuk menghadapi masalah tersebut kita harus mengambil peran kontrol untuk membantu anak-anak melalui tindakan preventif  dan tindakan lainnya untuk menyelamatkan asa mereka. Kita tidak boleh berdiam diri, karena dengan berdiam diri akan semakin menghabiskan generasi potensial kita dimasa yang akan datang. Untuk menjawab tantangan ini terlahirlah gerakan sosial Save Our Children  (SOC),  sebagai wujud respon atas keresahan dan kepedulian terhadap permasalahan yang semakin kompleks yang akan dihadapi anak-anak Indonesia khususnya yang terjadi pada anak-anak Sumatera Selatan.

Save Our Children  (SOC) merupakan gerakan sosial yang digagas oleh beberapa mahasiswa Universitas Sriwijaya Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara yang bertujuan untuk merangkul, membina, mengembangkan serta mengakaryakan anak-anak tepian Sungai Musi yang kurang mampu secara finansial akan tetapi mempunyai potensi dan semangat untuk berprestasi.

Sedikit berbicara tentang Save Our Children  (SOC),  Gerakan sosial yang dijalankan PM Baktinusa regional Palembang ini sudah memasuki tahun ketiga. Selama dua tahun lebih berjalan, SOC telah merangkul dan mengembangkan sekitar 24 anak-anak yang bina intensif dalam secara rutin dalam pertemuan sekali dalam dua minggu. Pertemuan dua sekali seminggu ini kita lakukan dihari minggu bertujuan kegiatan ini tidak menggangu jadwal sekolah adek-adek SOC dan mengharapkan anak-anak SOC  belajar mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan produktif sedari dini. Karena Ala bisa karena biasa, anak-anak SOC harus terbiasa produktif.

Ada beberapa rangkaian kegiatan yang kita berikan kepada anak-anak SOC untuk menambah kompetensi mereka. Kegiatan-kegiatan yang kita berikan kepada anak-anak SOC lumayan variatif. Teman-teman Baktinusa UNSRI melakukan edukasi dan pendekatan dengan metode sederhana yang disukai oleh anak-anak. Karena ketika kita berbicara tentang berinteraksi dengan anak-anak, maka kita harus ikut larut juga dengan gaya anak-anak. Ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi teman-teman Baktinusa yang yang notabene mempunyai latarbelakang seperti Aktivis Pergerakan, Akademisi dan latarbelakang  lain-lain yang intensitas interaksi dengan anak-anak sangat minim sebelumnya. Gerakan sosial yang sangat berguna guna untuk menambah pengalaman yang lebih mengenai interaksi dengan anak-anak.

Kembali pada kegaiatan Save Our Children  (SOC), anak-anak yang merupakan objek gerakan sosial SOC merupakan anak-anak yang terpilih berdasarkan kriteria dan hasil visistasi yang dilakukan oleh tim. Dalam menentukan anak-anak yang akan menjadi objek gerakan sosial kita melakukan berapa rangkaian seleksi dengan tujuan anak-anak  SOC yang akan kita kembangkan ini merupakan anak pilihan yang tepat dan sesuai kriteria tim seleksi dari Baktinusa UNSRI.

Diawal kita melakukan komunikasi resmi ke beberapa Kepala Sekolah Dasar yang berada di Kota Palembang dengan tujuan kita memberikan permohonan kepada pihak sekolah untuk membantu memberikan rekomendasi lima siswa mereka yang mempunyai nilai rapor bagus dan bermasalah di financial. Total ada 40 nama siswa SD  yang terhimpun dari berbagai Sekolah Dasar. Kemudian beberapa rekomendasi nama siswa tersebut kita rangking dari atas kebawah sesuai sekolah masing-masing dan tiga nama teratas lolos untuk seleksi selanjutnya. Setelah mendapatkan 24 nama ( tiga nama teratas per sekolah), kemudian kita melakukan visitasi ke rumah masing-masing siswa untuk melihat keadaan rumah dan kondisi keluarga sebenarnya,  sekaligus meminta izin kepada orangtua siswa terkait gerakan SOC ini. Terakhir, setelah melakukan visitasi dan pertimbangan, kesimpulannya terpilih 12 nama siswa yang akan menjadi target gerakan sosial SOC yang dibangun teman-teman Baktinusa UNSRI. Setiap satu oaring Penerima Baktinusa membina dua orang anak-anak SOC.

Anak-anak identik dengan bermain dan bersenang-senang dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam gerakan ini. Ketika kita berhadapan dengan anak-anak, gaya yang harus digunakan untuk pendekatanpun harus mengikuti cara anak-anak. Baktinusa UNSRI dalam melaksanakan kegiatan ini menggunakan banyak cara dan pendekatan. Jelas pertama kita membangun komunikasi personal dengan anak supaya tercipta kedekatan emosional. Kita mengajak anak-anak SOC untuk menonton film ataupun video edukasi yang bertujuan untuk menambah wawasan cakrawala, untuk belajar mengambil nilai-nilai bermasyarakat sekitar dari film serta merangsang pola pikir mereka bahwa mereka mampu berhasil dan berprestasi baik untuk diri sendiri maupun masyarakat. Selain metode ajar melalui film atau video, kita juga mengajak anak-anak SOC mengunjungi museum dan tempat bersejarah yang berada di Kota Palembang, tujuannya sederhana selain kita memberikan materi belajar kepada mereka, harapannya mereka juga bisa mengenal dan tau sejarah Indonesia yang semakin hari semakin tidak diketahui anak-anak pada umumnya karena pesatnya perkembangan zaman. Diawal sudah disinggung mengenai tantangan berhadapan dengan anak-anak, tantangan lainnya yang dihadapi dan harus kita ubah adalah sifat malu-malu sebagian anak-anak. Disini kita melakukan metode bercerita kepada mereka. Melakukan komunikasi dua arah dengan anak-anak SOC, interaksi intens dengan mereka, mengajak mereka untuk bercerita tentang cita-cita, review kesimpulan film atau video didepan orang banyak dengan tujuan supaya kebiasaan sifat malu mereka lambat laun hilang, terbiasa berbicara didepan orang banyak serta menambah keberanian mereka berinteraksi dengan orang lain.

Orientasi dari gerakan Save Our Children (SOC) adalah bagaimana kemudian anak-anak yang kita bina bisa memiliki beberapa karakter sesuai targetan kita seperti Religius, Filantropi, Kompetitif dan Kepemimpinan. Kita membangun kesadaran ini kepadamereka sedari dini, kita mengajarkan mereka arti pentingnya bersosialisasi hingga menstmulasi semangat mereka untuk belajar kearah yang lebih tinngi. Kita menginginkan anak-anak yang kita bina bisa menjadi orang-orang yang paham agamanya serta mampu mengamalkan nilai-nilai Islam sedari dini. Tugas manusia dengan manusia lainnya adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, kita memberikan pemahaman kepada anak-anak SOC bahwa mereka harus siap dan belajar untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Output lain yang kita targetkan bahwa anak-anak SOC yang kita harus kompetitif dibidang akademik maupun non akademik untuk menunjang prestasi mereka, terbukti tiga anak-anak SOC terpilih menjadi penerima beasiswa BAZNAS untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bogor dan kita juga mendukung mereka untuk mengembangkan minat dan bakat anak-anak SOC.

Gerakan Sosial Save Our Children (SOC) yang dilaksanakan oleh para Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara regional Palembang merupakan ikhtiar yang mengharapkan gerakan kecil ini mampu membantu pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia Berdaya. Kita menyadari untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja ataupun sebagian orang saja, akan tetapi harus dilakukan oleh beberapa orang melalui gerakan-gerakan koletif dan cara kita masing-masing diberbagai daerah di Indonesia. Pemuda itu identik dengan semangat yang membara dan ide-idenya yang berkecamuk. Sangat sayang apabila kelebihan tersebut  tidak disalurkan kearah yang positif. Melaui gerakan sosial Save Our Children (SOC) ini kami berharap mampu memberikan kontribusi untuk negeri, karena kita belajar merawat Indonesia.

Oleh: Abdul Hamid Harahap (Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *