Pertaruhan Partai Politik Pendatang Baru Pada Pemilu 2019

Anak Muda Berita Daerah Politik

Palembang, selasarsumsel.id – Lembaga Kajian Strategis yang berbasis di Sumatera Selatan, CDCS, Center For Democration and Civilization Studies, menggelar kajian dwi pekanan, dengan topik berjudul, “Kiprah Partai Politik Pendatang Baru Pada Pemilu 2019”, pada Minggu (17/02/2019) yang bertempat di Seruput Café, Jl. Lunjuk Raya, Palembang.

Dari pantauan redaksi selasarsumsel.id acara diskusi – kajian tersebut dihadiri oleh 4 perwakilan partai politik (parpol) pendatang baru, yakni Partai Berkarya (Dr. Farid, Wakil Ketua BAPILU), Partai Solidaritas Indonesia (Yand Abraham Manalu, Jubir PSI Sumsel), PERINDO (Jasmadi Pasmendra, SHi., MH), dan Partai Garuda (Dolmar J Darmajaya, Ketua Umum), beserta Narasumber akademisi, yaitu Eka Octha Reza, SH., MH., M.Kn.

Dalam sambutan awal yang dimulai oleh Alip D. Pratama, SH., MH., Selaku Direktur Eksekutif CDCS, memaparkan gambaran data hasil Survey secara nasional mengenai elektabilitas 4 parpol pendatang baru tersebut, dimulai dari Lembaga Survey LSI Denny JA, POLMARK Indonesia, dan Lembaga Riset Publik (LRP).

Dari hasil survey ketiga lembaga tersebut bisa disimpulkan bahwa masing-masing dari Parpol pendatang baru tersebut, perolehan suaranya secara nasional, sangat mengkhawatirkan, sebab tidak ada yang lulus ambang batas parlemen sebesar 4%.

Melihat hasil data survey tersebut, Partai Berkarya menyatakan bahwa hasil survey tersebut adalah bahan bakar yang bisa memacu kader-kader Berkarya untuk semakin optimis bisa meraih hasil maksimal pada Pemilu 2019 nanti.

“Nama besar para pimpinan pusat dari Partai Berkarya, seperti Tommy Soeharto, maupun Priyo Budi Santoso, akan menjadi magnet tersendiri bagi pemilih ke depan. Apalagi, Berkarya juga berkomitmen untuk melanjutkan apa yang telah dicapai oleh Bpk. Presiden Soeharto dahulu melalui konsep trilogy pembangunannya.” Ujar Musthafa Andika, selaku Wakil Ketua DPW Partai Berkarya Sumsel.

Sementara itu, Partai Garuda juga menyadari akan tugas berat yang mesti diemban oleh para kader dan caleg Partai Garuda, dalam rangka menyukseskan Partai tersebut pada pemilu mendatang.

“Kami Partai Garuda, meskipun tidak memiliki modal berupa kekuatan media, tapi telah mempersiapkan beberapa scenario dalam menyongsong bulan april nanti. Diantaranya adalah penguatan pada infrastrutur partai, dengan menggiatkan kegiatan konsolidasi kader, serta menjadikan agenda pendidikan politik bagi masyarakat umum sebagai salah satu program yang efektif dalam mendulang suara.” Ujar Dolmar.

Lebih lanjut, Dolmar menyatakan, “Pada dasarnya kami tetap bekerja. Bekerja dalam senyap. Kerja yang tidak menitik beratkan kepada adanya hingar-bingar media. Gerakan kami mesti efektif dalam mendeteksi apa yang selama ini menjadi kegelisahan rakyat” Ujarnya.

“Dalam rangka pemaksimalan kerja pemenangan tersebut, bahkan Partai Garuda pun sudah memutuskan untuk tidak berpihak dan memberikan dukungannya kepada Pilpres yang akan datang, sebab, kami menginginkan agar energy kami difokuskan pada pemenangan pemilu legislatif” Lanjut Dolmar.

Dilain pihak, perwakilan Perindo, Jasmadi Pasmendra, menyampaikan bahwa, peran media elektronik yang dimiliki oleh pendiri dan pimpinan pusat Perindo, Hari Tanoesudibjo, tidak bisa dinafikan dampaknya dalam mengkatrol popularitas dan elektabilitas partai mereka.

“Beberapa strategi Perindo untuk memutar balikkan hasil survey tersebut adalah, dengan memfokuskan diri kepada program-program yang dirasakan langsung oleh rakyat, seperti program penyemprotan asap nyamuk (fogging), dan Gerobak UMKM.” ujar Jasmadi.

“Sudah ratusan titik di Sumsel ini kami selenggaraan program fogging, dan Alhamdulillah, respon masyarakat sangat positif. Bahkan mereka turut mendoakan kami agar bisa terpilih pada Pileg ke depan.” Tambah Jasmadi.

Di lain pihak, PSI sebagai Parpol yang dikenal identik dengan generasi millennial, mengomentari hasil survey tersebut secara obyektif.

“Untuk meraih hasil yang maksimal pada pemilu 2019 nanti, kami fokus kepada program blusukan ke kantung-kantung suara. Setiap minggu bertemu konstituen, dan mendengarkan keluh kesah mereka, serta mengupayakan adanya bantuan-bantuan yang riil, jika memang permasalahan rakyat itu bisa diselesaikan oleh PSI.” ujar Yand.

“Kami partai PSI, ingin mempertegas diferensiasi kami sebagai parpol baru, dengan parpol yang lama. Maka dari itu, kami memiliki tagline anti korupsi dan anti intoleransi.” Imbuh Yand.

Setelah mendengarkan paparan dari para narasumber, Sdr. Alip selaku moderator kemudian mempersilahkan para peserta kajian untuk menggunakan kesempatannya memberikan tanggapan ataupun pertanyaan.

Beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh audiens, diantaranya oleh Sdr. Taufiq Akbar.

“Intinya, jangan sampai kemudian diskusi kita hari ini, justru memunculkan persepsi tentang Partai Lama Vs Partai Baru, karena itu kontraproduktif bagi demokrasi kita. Maka, kita sebenarnya, ingin juga mendengar narasi di bidang ekonomi dari masing-masing parpol tersebut, sebagai dasar bagi kami untuk menilai kalian.” Ujar Taufiq.

Mengenai pertanyaan tentang narasi ekonomi, dari masing-masing parpol memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendudukkan perkara tersebut.

Partai Garuda memfokuskan kepada pemaksimalan asset-aset yang telah ada di daerah, seperti LRT. “Meskipun masih milik Pusat, tapi pemprov bisa saja memaksimalkan LRT ini, sehingga berkontribusi positif bagi ekonomi rakyat sumsel.” Jelas Dolmar.

PSI menguraikan program-program partai mereka, terutama pada bidang IT, yang notabenenya merupakan bidang yang cukup digandrungi anak muda dewasa ini.

Sementara Berkarya melalui Dr. Farid, menjelaskan bahwa, pembangunan ekonomi tentu menjadi salah satu focus mereka juga. Sebab, hal tersebut sangat berhubungan langsung dengan kesejahteraan rakyat.

Perindo melalui Jasmadi menjelaskan bahwa ekonomi kerakyatan, sebagaimana yang telah diamanatkan di dalam konstitusi kita, adalah guidance Perindo dalam mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat.

Acara kemudian ditutup dengan masukan-masukan yang disampaikan oleh Tokoh Akademisi Sumsel, Eka Octha Reza, bahwa tiap-tiap Parpol pendatang baru, memiliki tugas berat untuk merealisasikan semua hal yang telah disampaikan tadi, sehingga tidak sekedar janji manis saja.

“Kelemahan dari masing-masing Parpol pendatang baru ini adalah, mereka semua, rata-rata memiliki keterbatasan secara structural, maupun keanggotaan, untuk menerjemahkan keunggulan program-program mereka, ke tengah masyarakat.” Tambah Okta.

“Meskipun ada keterbatasan, kita tetap harus optimis, dan berkeyakinan bahwa waktu selama dua bulan terakhir ini, adalah waktu yang cukup untuk menutupi kekurangan-kekurangan tadi, dan mengkonversinya menjadi keunggulan bagi masing-masing parpol.” Tutup Okta.

Kegiatan tersebut berakhir sekitar pukul 18.15 WIB dan ditutup dengan agenda penyerahan cinderamata kepada masing-masing parpol dan narasumber, serta deklarasi dari seluruh komponen yang hadir, tentang dukungan pemilu damai dan tertib pada 2019 nanti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *