Pendidikan yang Salah Pondasi hingga Pembuktian Susi dan Habibie

Opini

Palembang, selasarsumsel.id – Bangsa Indonesia ini merupakan sebuah kumpulan nikmat dan kebaikan tuhan yang tak ada habisnya untuk diceritakan. Semua yang baik-baik ada disini, tanah air dan sumber daya yang ada tak patut untuk disalahkan ketika hari ini kemiskinan, pengangguran dan rendahnya kesejahteraan rakyat menggelayuti pertiwi tercinta.

Bukan salah tanah ketika pada akhirnya ia habis terjual dan tersandera oleh kepentingan asing. Bukan pula salah air apabila ia tak terberdayakan dengan baik sehingga garam impor masuk dengan derasnya ke Indonesia, Negara dengan laut yang lebih luas dari daratannya. Atau siapa yang berani menyalahkan rakyat kita sendiri ketika posisi tenaga kerja – tenaga kerja diberbagai proyek dan insutri justru dipercayakan pada orang asing, orang lain dinegeri ini.

Kebijakan adalah buah dari keputusan penguasa. Penguasa yang tidak hanya satu,dua,tiga jumlahnya. Semua kebijakan bodoh itu apakah dikeluarkan karena mereka bodoh? Karena mereka tidak berpendidikan? Tentu saja tidak. Bahkan semua yang mampu menduduki kursi kekuasaan itu bisa jadi mereka adalah yang paling berpendidikan diantara rakyat-rakyat polosnya.

Disini kita memahami bahwa pendidikan yang semakin tinggi mungkin membuat orang menjadi semakin pintar. Tetapi itu tidak linier dengan tingkat kebermanfaatan yang dibawanya. Pendidikan adala hal yang mulia tetapi tidak menjamin setiap pelaku dan penerimanya mampu memberikan kemuliaan pada sekitar, pada rakyat bangsa dan Negara.

Mari kita hidupkan televisi dan membaca surat kabar, lalu mulailah membuat catatan kecil dan tulis beberapa angka. Berapa banyak jumlah tersangka dan pelaku kejahatan yang menghiasi media massa yang memiliki latar belakang pendidikan rendah dan bandingkan dengan berapa banyak jumlah koruptor, penyuapan, pencucuian uang, penyelundupan narkoba, maladministrasi publik dan praktek kejahatan kelas kakap yang justru tak mungkin bisa dilakukan oleh pelaku tamatan SD atau SMP.

Data yang penulis ambil dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK – https://www.kpk.go.id) menyebutkan bahwa per tahun 2017  pelaku korupsi terbanyak berasal dari pejabat birokrasi pemerintahan pusat dan daerah. Tercatat ada 43 perkara korupsi yang melibatkan pejabat eselon 1 hingga 4. Selanjutnya pelaku dari swasta terluibat di 27 perkara. Di peringkat ketiga, para anggota DPR dan DPRD tersangkut di 20 perkara. Sementara 12 perkara lain menyangkut kepala daerah.

Pendidikan untuk kebermanfaatan

Sebuah sudut pandang yang ironis ketika orang-orang di negeri ini yang mengaku dirinya pintar, justru beranggapan kalau solusi dari semua masalah negeri ini adalah pendidikan. Mereka beranggapan kalau pendidikan dapat mengubah segalanya menjadi lebih baik. Sedangkan kita semua tahu bahwa  para koruptor yang telah ataupun masih mendekam di dalam penjara adalah bukan orang yang bodoh. Mereka semua adalah orang pintar yang bahkan tidak sedikit lulusan universitas di luar negeri.

Untuk apa pendidikan yang tinggi bila tidak bisa membawa manfaat kepada orang lain, kepada sesama. Sebagai warga negara yang baik, bukankah kita seharusnya memiliki sikap yang nasionalis? Sikap yang cinta akan negara dan bangsa? Bila hanya ingin memperkaya diri dan melemahkan bangsa, maka orang yang demikian tidak ada bedanya dengan penjajah-penjajah dari Barat.

Khairunnas Anfa`uhum Linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani tersebut. Apabila berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki kekuasaan, maka sebenarnya sudah menjadi sebuah kewajiban untuk membantu sesama. Berat bersama-sama dipikul, ringan bersama-sama dijinjing. Negeri ini harus saling bahu-membahu untuk menumpas jerat kemiskinan dan kebodohan.

Sederhananya, lebih baik menjadi seorang lulusan SMA tapi bermanfaat bagi sesama, bagi lingkungan. Daripada orang yang sekolahnya sampai S.2 atau S.3 tapi tidak membawa manfaat sedikitpun. Malah sebaliknya, justru lebih banyak yang membuat kesengsaraan bagi negeri ini.  Semua itu berawal dari penanaman motivasi yang salah dalam mengenyam pendidikan.

Semua orang beranggapan bahwa dengan pendidikan tinggi bisa memudahkan seseorang untuk meraih karir dan pekerjaan yang menjanjikan, mendapatkan banyak uang dan menjadi orang kaya. Jarang sekali ada orang tua menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi dengan pesan agar ia kelak bisa berbagi dan bermanfaat bagi orang lain dan negeri ini.

Penanaman motivasi awal yang salah dalam mengenyam pendidikan jangan lagi kita lestarikan pada generasi – generasi berikutnya. Kita sudah cukup menjadi pelaku yang merasakan betapa orientasi materi itu begitu jahat karena telah merenggut rasa percaya kita atas takdir dan ketetapan Allah. Seyogyanya sebagai hamba kita hanya diwajibkan untuk berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan aktivitas kebaikan dan seoptimal mungkin dapat bermanfaat bagi orang lain.

Orientasi pendidikan yang kurang tepat ini sah-sah saja bagi orang yang meyakini bahwa hal tersebut dapat memuaskan batinnya, toh kepuasan batin seorang ukurannya berbeda antara yang satu dan lainnya. Ada orang yang sudah cukup puas ketika dia sudah mampu membeli nasi padang sebungkus dan menikmatinya sendiri, tapi ada orang yang justru jauh lebih merasa puas batinnya ketika ia hanya memiliki sepotong roti dan membaginya menjadi dua bagian dan memberikan sebagian lainnya untuk orang lain. Ini tentang seberapa besar pola pikir kita dalam memandang sesuatu.

Susi Tamatan SMP yang Mendunia

Susi Pudjiastuti yang lahir di Pangandaran pada tanggal 15 Januar tahun 1965 dari sepasang suami istri yang berprofesi sebagai seorang saudagar sapi dan kerbau yang mendatangkan hewan ternak tersebut dari Jawa Tengah untuk dijual kembali di Jawa Barat.

Tak ada yang aneh dengan keseharian Susi, ia bersekolah semasa kecilnya dan melanjutkan kejenjang SMA ketika lulus dari SMP. Hal yang dinamis terjadi ketika itu ia berusia 17 tahun dimana dirinya memutuskan untuk berhenti sekolah, dan lebih memilih kembali ke Pangandaran dan mencari segala peluang bisnis, mulai dari berjualan baju dan bedcover ia tekuni dengan tanpa mengeluh. Namun pada akhirnya, potensi Pantai Pangandaran yang menjadi salah satu kawasan penghasil ikan mendorong Susi untuk memanfaatkan peluang tersebut sebagai peluang berbisnis

Singkat cerita keputusan berani Susi untuk memutar haluan hidupnya keluar dari zona nyaman, berhenti sekolah dan memilih untuk merintis bisnis saat ini telah membuatnya berhasil menjadi pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Hingga awal tahun 2012, Susi Air mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe .

Perjuangan dan kerja keras serta pengalaman Susi di bidang perikanan, membuat Jokowi akhirnya memutuskan untuk menempatkan seorang Susi Pudjiastuti di kursi kementrian dan menempati posisi Menteri Kelautan dan Perikanan. Kebijakan tegasnya menenggelamkan kapal illegal dan gayanya yang nyentrik dan merakyat membuat banyak Negara berdecak kagum dengan menteri tamatan SMP ini.

Kisah Ibu Susi membangunkan kita dari sebuah kesesatan berfikir panjang yang mengidentikan kekayaan dan kesuksesan harus didukung dengan pendidikan yang tinggi. Hari ini seorang Susi Puji Astuti membuktikan bahwa karakter dan etos kerja dapat mengalahkan selembar kertas yang disebut dengan ijazah.

Habibie, Pesawat Untuk Maritim Indonesia

Beranjak dari kisah seorang perempuan tangguh tamatan SMP, nampaknya tidak terlalu sulit mencari sosok seseorang yang berpendidikan , berprestasi tapi juga mampu menunjukan bahwa pendidikannya ia baktikan untuk kemajuan keilmuan dinegeri tercinta ini.

Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 merupakan presiden ketiga pasca lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaanya ketika itu. Masa jabatan Habibie yang tidak lama memnbuatnya lebih dikenal sebagai seorang bapak pesawat Indonesia ketimbang sebagai presiden Republik Indonesia.

Habibie belajar teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954. Pada 1955–1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingenieurpada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Karyanya yang paling dikenal adalah N250. Jika ingin belajar bagaimana seseorang meniatkan pendidikanya untuk sesuatu yang mulia, mari kita belajar dari niat mulia seorang BJ. Habibie ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Jerman.

“Saya hanya bercita-cita membuat pesawat terbang, bukan pesawat tempur. Pesawat terbang yang bisa membawa rakyat Indonesia ke titik-titik maritim yang luas di Indonesia. Tentunya tidak dibiayai hasil ekspor sumber daya alam atau utang tapi dari keringat rakyat,” ungkapnya dalam sebuah wawancara.

Menghibahkan jejak karir pribadinya untuk tujuan kebermanfaatan orang banyak adalah cita-cita langka pemuda Indonesia hari ini. Habibie telah mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita menempatkan sebuah niat, orang yang berniat besar akan memperoleh sesuatu yang besar pula. Kepintaran dan jejak pendidikan Habibi yang prestitius tidak lantas ia gunakan untuk menipu orang banyak, karir tertinggi sebagai seorang presiden tidak lantas ia manfaatkan untuk mengeksplorasi keuntungan sebesar-besarnya atau melanggengkan kekuasaanya.

Pendidikan tinggi tidak selalu berakhir dengan korupsi dan kepintaran tidak selalu digunakan untuk membodohi orang lain. Kunci dari semua konsistensi idealism itu salah satunya adalah pada peletakkan niat awal yang benar dan mulia. Habibie member pesan pada semua generasi muda bahwa pembuktian akhir dari sebuah cita-cita mulia adalah karya nyata.

“Untuk itu kuncinya adalah pada karya-karya Anda. Terus berusaha menjadi yang terbaik, unggul dan Anda akan bisa mencapai puncak kesuksesan. saya bilang kita jangan hanya memperhatikan neraca pembayaran tapi juga neraca jam kerja. Ini kunci untuk masa depan bangsa yang lebih baik,”

(BJ Habibie)

 

Oleh : Bayu Apriliawan ***

*** Penulis ialah Wakil Presiden Mahasiswa KM Unsri 2017 & PM Beasiswa Aktivis Nusantara VII

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *