PEMUDA INDONESIA, BERGERAK ATAU TERGANTIKAN?

Opini

Berbicara tentang pemuda merupakan suatu objek yang sangat menarik untuk dibahas. Selalu ada saja hal unik yang ditemukan dalam sosok pemuda. Berbicara tentang pemuda, kita akan berbicara tentang narasi besar yang akan ditampi kemudian dipersembahkan untuk peradaban dimasa depan. Berbicara tentang pemuda, kita juga akan berbicara tentang bagaimana kemudian pemuda menjalani proses demi proses mega proyek peradaban masa depan suatu bangsa hingga pergulatan-pergulatan yang terjadi didalamnya hingga berbicara alasan pemuda untuk bergerak. Sangat menarik kalau kita membahas tentang pemuda. Dalam tulisan kali ini kita akan mencoba membahas tentang mengapa pemuda itu harus bergerak dan apa yang terjadi ketika pemuda tidak bergerak.

Bergerak atau Tergantikan!

Kalimat diatas sebenarnya telah termaktub dalam kitab Surah Al-Maidah ayat 54. Kalimat yang selalu terngiang dan terlontar dari dan dalam diri mahasiswa. Ada dua kata yang sangat mencolok disana yakni bergerak dan tergantikan. Saya yakin mayoritas mahasiswa di Indonesia tidak akan asing lagi ketika mendengar dua kata diatas, apalagi mahasiswa yang aktif di organisasi internal maupun eksternal mahasiswa seperti BEM, DPM, KAMMI, HMI, GMNI dan lain-lain. Dari dua kata tersebut jelas kita pahami bahwa kalimat tersebut merupakan penegasan kepada mahasiswa untuk memberikan sikapnya terhadap pembagian peran proyek peradaban ini. Ada dua pilihan yang jelas disini, mau berdiri dipihak bergerak atau di pihak tergantikan? Karena kita sepakat bahwa mahasiswa atau pemuda tidak mengenal sikap abu-abu ataupun cari aman, melainkan keberpihakan dengan sikap yang jelas.

Pemuda hari ini merupakan pemegang estafet peradaban bangsa ini yakni negeri Insulinde. Kita merupakan wajah Insulinde masa depan. Ketika hari ini pemudanya baik, maka baiklah Indonesia dan sebaliknya ketika hari ini pemudanya kurang baik, maka Indonesia akan kurang baik juga. Begitu berat tugas seorang pemuda itu ternyata ya. Ya, berat ketika kita hanya diam dan ringan ketika kita mau bergerak untuk mengambil peran. Karena sesungguhnya pemuda itu jangan terlalu mudah baperan, akan tetapi kita balik, terlalu mudah untuk mengambil peran supaya lebih produktif untuk kebaikan Insulinde.

Kembali kita membahas tentang pemuda itu harusnya bergerak. Temen-temen kita beranalogi dulu sejenak. Coba kita bayangkan mengapa begitu banyak sendi-sendi yang berada dalam susunan tubuh manusia. Mulai dari sendi yang berada di kaki, tangan, lutut, lengan dan sendi lainnya. Sendi merupakan bagian tubuh yang menghubungkan antar tulang ditubuh kita. Tujuannya sangat rasional, untuk mempermudah manusia bergerak melakukan aktifitas di bumi ini. Supaya manusia mudah untuk berjalan serta berinteraksi dengan manusia lainnya. Coba kita bayangkan kembali jika susunan tubuh manusia tidak mempunyai sendi? Pasti akan sangat kaku layaknya robot.

Kemudian apa yang akan terjadi ketika tubuh kita jarang bergerak? Layaknya orang yang berbulan-bulan dirawat di rumah sakit, pasien yang sudah sembuh dari sakitnya akan merasa tubuhnya agak sedikit kaku ketika digerakkan kembali. Untuk menstabilkannya kembali mereka harus melakukan terapi tulang dan sendi agar fungsi organ bergerak normal. Ini contoh pentingnya bergerak ketika kita menganalogikan dengan sendi pada tubuh manusia. Inilah yang akan terjadi ketika kita tidak bergerak, sendi yang ada dalam tubuh kita bakal aus dan susah digerakkan, bahkan kondisi terburuknya adalah sendi kita bakal mengalami peradangan yang berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Setelah kita berbicara pergerakan dengan analogi sendi dalam tubuh manusia, kemudian kita akan mencoba menganalogikan pentingnya bergerak dengan analogi air. Selanjutnya saya ingin bertanya kepada teman-teman. Ketika teman-teman disuruh memilih antara air yang mengalir dengan air yang tergenang, air mana yang akan kemudian teman-teman pilih? Saya yakin mayoritas atau seluruhnya memilih air yang bergerak. Bisa kita bandingkan lebih baik air yang mengalir dari sungai atau air yang berada di kolam. Sudah tentu lebih baik air yang berasal dari sungai, karena sejatinya air sungai itu baik karena sifatnya bergerak. Pun dalam segi kesehatan, kita lebih dianjurkan untuk memakai air yang mengalir untuk mencuci segala bahan makanan. Air tergenang dia akan membentuk endapan atau sedimen yang gak baik untuk dipakai mencuci makanan. Dalam analogi ini dijelaskan bahwa segala sesuatu yang bergerak itu lebih baik dari pada yang tidak bergerak.

Bergeraklah pemuda!

Pada dasarnya manusia diciptakan untuk bergerak. Allah menciptakan manusia bukan hanya untuk beribadah saja, tidak. Tugas manusia tidak hanya sebatas menunaikan sholat, zakat, puasa dan lain-lain, akan tetapi bagaimana kemudian manusia menjadi khalifah yang akan memakmurkan peradaban dan muka bumi ini melalui keimanan yang telah menghujam di dalam dada. Dalam kitab Al-Qur’an Surah Al Jumu’ah ayat 10 juga telah termaktub sebuah ayat berupa seruan kepada manusia yang artinya,
“Apabila Sholat telah dilaksanakan; Maka bertebaranlah kamu dibum; carilah karunia Allah dan Ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.
Arti ayat diatas secara implisit menyampaikan bahwa setelah keimanan yang meghujam dalam dada ditunaikan masih ada amalan nyata yang harus dilaksanakan. Menjalankan kewajiban sholat saja ternyata tidak cukup, akan tetapi lebih dari itu.

Manusia diperintahkan untuk bertebaran diseluruh muka bumi ini. Bertebaran disini bisa kita maknai bergerak ke seluruh muka bumi untuk mencari karuniaNya. Perintah Allah itu sifatnya universal yah jadi Allah nyuruh semua makhluknya untuk bergerak tanpa memandang status sosial, gender, dan lain-lain, pokoknya kalo temen-temen merasa Makhluk Allah maka yang harus dilakukan adalah bergerak dan terus bergerak. Kehidupan dimuka bumi ini ibaratnya seperti lahan. Sekarang lahannya telah ada, tinggal kita mau mengambil bagian untuk menggarapnya atau tidak. Karena lahan itu akan panen atau menghasilkan keuntungan ketika ada orang yang bersedia menggarapnya.

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya.Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran..”[KH. Rahmat Abdullah]

Tetap dan teruslah bergerak!

Sejatinya manusia adalah da’I atau penyeru kebaikan sebelum menjadi apapun. Manusia adalah seorang penyeru sebelum menjadi mahasiswa, sebelum menjadi guru, sebelum menjadi dokter, sebelum menjadi presiden. Terserah siapa orangnya, darimana latar belakangnya dan darimana ia berasal, bahkan dari lingkungan yang kelam sekalipun. Tidak masalah. Tiap ruh yang masih ada mempunyai kewajiban untuk bergerak untuk menyeru kebaikan-kebaikan hingga kelini paling susah dijangkau sekalipun. Kita harus memaknai hal tersebut. Ketika kita terlahir dari lingkungan yang gelap, maka curigalah pada diri kita sendiri, jangan-jangan kita adalah cahaya yang diberikan Allah untuk menerangi lingkungan yang gelap tersebut.

“Andai perjuangan ini mudah, pasti ramai yang menyertainya. Andai perjuangan ini singkat, pasti ramai yang istiqomah. Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia, pasti ramai yang tertarik kepadanya. Tapi hakikat perjuangan bukan begitu. Turun naiknya. Sakit pedihnya. Umpama kemanisan yang tidak terhingga”.[Hasan al Banna]

Marilah kita menyambut makna, kemudian memaknainya hingga diakhir kita memberikan makna bagi orang sekitar kita. Lebih baik menjadi sebuah lilin kecil daripada menjadi bagian yang mengutuk kegelapan. Sesungguhnya tugas kita bukan hanya menjadi baik saja, karena itu tidak akan cukup. Lebih dari itu, bagaimana kemudian kita bisa membaikkan orang lain juga.

Penting juga untuk kita camkan, tugas kita bukan hanya sekedar bergerak saja, akan tetapi ada yang lebih luar biasa dari itu, bagaimana kemudian bisa menggerakan dan membuat orang bergerak juga. Ingatlah bahwa Gerakan itu merupakan medium yang menghubungkan antara manusia dan peradaban. Hari ini kita adalah pionir peradaban itu.

Bergerak atau Tergantikan!

***

Oleh : Hamid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *