Kepala Daerah Tempramental, Masih Layakkah Di Era Milenial ?

Opini

Palembang, selasarsumsel.id – Buah yang jatuh tak jauh dari pohon, begitulah bunyi pepatah bijak tempo dulu. Pepatah tersebut maknanya kurang lebih adalah bahwa setiap orang tua itu pasti akan menurunkan hal-hal yang indentik dengan anak kandungnya. Pepatah itu bisa juga dipahami, orang tua dan anak itu memiliki hubungan yang sangat unik.

Interaksi yang panjang antara orang tua dan anak, sedari anak masih kecil hingga telah dewasa, itu akan menjadi akumulasi pengalaman, sehingga sikap anak akan sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua selama berinteraksi dengan sang anak tersebut.

Kaget juga mendapat kabar dari berita online, yang menceritakan percekcokan antara seorang Kepala Daerah yang masih menjabat, dengan Calon Kepala Daerah yang baru akan maju bertanding. Terlepas dari kebenaran dari berita itu, tidak dapat dibenarkan jika seorang Kepala Daerah, apalagi jika masih resmi menjabat, melabrak calon kepala daerah dengan dalil bahwa Calon Kepala Daerah tersebut telah menjelek-jelekkan anaknya (yang kebetulan anak Kepala Daerah tersebut, ikut maju dalam kontestasi politik bersaing dengan Calon Kepala Daerah yang saling bercekcok tersebut).

Bisa dipahami bahwa yang namanya pilkada, tentu lambat laun tensinya akan menanjak. Bahkan naiknya tensi tersebut tidak akan ada pihak yang mampu mengendalikannya. Makanya, seharusnya para partisipan, apalagi Kepala Daerah yang tengah menjabat, harus turut serta menahan diri untuk tidak berkomentar, juga melakukan tindakan yang dapat memicu tingginya tensi politik kita.

Jangan sampai tingginya tensi politik tersebut, memicu munculnya konflik horizontal antar timses bahkan melibatkan masyarakat. Sebab, esensi dari pesta demokrasi ini adalah pertarungan ide dan gagasan, bukan pertarungan memakai otot.

Tidak lama setelah mendapatkan berita kontroversial kemarin, Publik kembali dikagetkan dengan sikap emosional Sang Kepala Daerah. Dilansir dari media online “Maklumatnews.com” bahwa, Kepala Daerah tersebut telah melabrak salah satu Kepala Dinas di kediaman rumah dinasnya.

Labrakan tersebut bermuara dari tuduhan bahwa sang Kepala Dinas telah melakukan manipulasi data. Keruan saja hal itu dibantah oleh si Kepala Dinas. Tingginya tensi di dalam ruangan tersebut, bahkan memancing Sang Kepala Daerah untuk memukul Kepala Dinas tersebut.

Untung saja ada staf protokoler Kepala Daerah yang melerai dan menahan emosi Kepala Daerah tersebut. Belakangan , Kabaghumas daerah tersebut mengklarifikasi bahwa tidak dibenarkan bahwa ada aksi hampir memukul itu.

Belakangan diketahui bahwa Kepala Dinas yang dipanggil itu seorang perempuan, dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit karena shock dengan perlakuan yang didapatkannya.

Kita semua sepakat bahwa menggunakan emosi yang tidak pada tempatnya, itu bukanlah hal yang pantas, apalagi sekaliber Kepala Daerah.

Dunia politik memang adalah dunia yang menegangkan. Dipenuhi dengan intrik dan atraksi yang mendebarkan. Namun begitu, dalam menjalaninya sebagai seorang politisi, kita tetap harus menjaga agar kepala kita tetap dingin, hati kita harus mempunyai sumbu yang panjang, sehingga tidak gampang tersulut api amarah. Politik rasional, yang mengedepankan akal sehat dan akal budi, adalah sebuah keniscayaan.

SANG ANAK

Dengan rangkaian pemberitaan yang negatif tersebut, dan dengan adanya sebuah realitas bahwa Sang Kepala Daerah yang masih resmi menjabat, dan telah menjalani masa jabatan untuk periode yang kedua, fakta bahwa sang anak ikut terlibat dalam kontestasi politik Pilkada di daerah yang sama, yang maju juga sebagai calon suksesor ayahnya, akhirnya publik kembali meragukan kualifikasi sang anak.

Pertanyaannya, akankah Sang Anak memiliki kelayakan sebagai seorang Kepala Daerah? Sebuah jabatan yang memiliki implikasi tersedotnya energi emosional kita dikarenakan, setelah dinyatakan menjabat, maka kita akan berhadap-hadapan dengan ribuan masalah yang begitu besar yang membutuhkan kematangan emosi, kedewasaan fikiran, dan kekuatan fisik yang mumpuni untuk melewatinya.

Tentu kita tidak ingin memiliki Kepala Daerah yang gampang tersulut emosinya. Meledak-ledak, tidak terkontrol ucapannya, semprot kanan-semprot kiri, tunjuk sana-tunjuk sini, memperlihatkan bahwa dirinya seorang yang memiliki otoritas untuk melakukan semua hal-hal yang tidak dewasa tersebut. Mampukah sang anak nantinya?

Faktanya adalah, sang anak maju dalam kontestasi pilkada ini dalam usia muda. Pasangannyapun usia muda. Kita tentu tahu, bahwa usia muda itu kadang tidak berjodoh dengan kematangan emosional. Sebab, kematangan emosional, adalah satu hal yang tidak memiliki korelasi dengan angka usia seseorang.

Seorang yang berusia tua, belum tentu memiliki kematangan emosional. Sebab, kematangan emosional itu adalah hal yang kita dapatkan dari penempaan yang lama dalam mengelola kondisi kejiwaan kita. Kita harus mengedepankan sikap saling hormat terhadap siapapun, meskipun jabatannya tidak lebih tinggi dari kita.

Mengelola sebuah pemerintahan daerah adalah mengelola sebuah territorial. Akan berbeda tantangannya jika territorial yang dikelola itu berkali-kali lipat luasnya dibandingkan Negara Brunei, atau Vatikan, atau Fiji, apalagi Palestina.

Teritorialnya luas, manusianya juga banyak. Suku, bahasa, adat, dan budaya, semua perangkat sosial itu, termaktub di dalam wilayah yang luas tadi. Problematika yang akan dihadapi juga bukan kepalang. Hanya seorang yang memiliki kematangan emosional, intelektual, dan juga kondisi kejiwaan yang baiklah yang mampu mengerjakan semua perkara itu. Bukan seorang yang memiliki sikap emosional yang labil, dan gampang meledak-ledak. Masalah tidak akan selesai jika dikerjakan dalam kondisi yang panas hati.

Kita membutuhkan figure pemimpin yang memiliki aura penebar kesejukan, di tengah kontestasi pilkada yang membara ini. Seorang solidarity maker, bukan seorang yang frontal bermusuhan dengan siapa saja yang berselisih pendapat dengannya, sebab, sikap yang meletup-letup itu, tidak cocok memimpin manusia di daerah yang majemuk ini.

Oleh : Pila Inda Pramata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *