Mendidik Generasi Milenial, Sulitkah?

Opini

Palembang, selasarsumsel.id – Pergeseran dalam pola dan tingkah laku masyarakat dari offline menjadi online, dari konvensional menjadi ”internet based”, memberikan dampak yang luar biasa terhadap pola hidup manusia. Handphone menjadi alat yang tak bisa dipisahkan dari setiap aktivitas masyarakat diabad ke 21 ini. Hal ini juga memberikan pengaruh terhadap pendidikan diIndonesia. Era seperti sekarang, memberikan ruang yang sangat terbuka bagi semua orang dalam mengakses apa saja yang mereka inginkan. Dengan satu kali klik, mereka bisa mendapat ribuan informasi baik dari dalam maupn luar negeri.

Saat ini anak-anak yang berada dibangku sekolah adalah anak-anak yang lahir pada tahun 2000-an keatas. Kita sebut generasi ini generasi milenial. Generasi yang memiliki corak karakter yang cukup unik dan berbeda. Banyak literatur menyebutkan, generasi ini memiliki sifat yang kreatif, berjiwa sosial tinggi dan tidak suka pada hal yang bersifat monoton. Namun mereka terkadang cepat bosan dan mudah berpaling dari hal satu ke hal lainnya (tidak fokus).

Generasi milenial selalu diidentikan dengan teknologi atau lebih jelasnya adalah internet. Revolusi industri dijaman milenium ini mengubah pola hidup dan cara bersosial dalam masyarakat. Semua dalam genggaman, semua bisa datang. Bahkan bisa memangggil kang ojek hanya dengan duduk santai diteras rumah. Perubahan ini juga disebut oleh pak renald kasali sebagai era disrupsi. Lalu apakah perubahan ini memberikan dampak terhadap pendidikan? Jawabannya adalah “iya”. Tapi tunggu dulu, apakah dampaknya berupa hal positif atau malah menjadi hal yang negatif?. Ini yang menjadi persoalan yang harus kita hadapi terkhusus para pendidik yang memiliki peran penting didalam menjaga anak didiknya dari pengaruh-pengaruh yang tidak kita inginkan. Mari kita perhatikan semua aspek yang dipengaruhi oleh teknologi baik secara positif maupun negatif.

Baru-baru ini kita dibuat terperanjat dengan perbuatan yang dilakukan oleh anak didik kita didalam bersosial media. Mereka berbondong-bondong menyerang akun pemerintah @kemdikbud untuk berkomentar terkait soal-soal ujian yang mereka dapatkan pada saat mengerjakan soal UN. Komentar dari para siswa ini banyak bentuknya ada yang mengkritik bahwa soal yang teralu sulit, ada juga yang menyampaikan keluh kesah mereka dalam menjawab soal, dan ada juga yang memberikan komentar yang mengelitik. Entah mendapatkan tanggapan atau tidak dari pihak pemerintah, namun fenomena ini harus menjadi sorotan kita bersama. Karena didalam era keterbukaan seperti sekarang ini, semua bisa menyampaikan apa yang menjadi kegelisan mereka. Tak sesulit dulu dalam menyampaikan aspirasi. Kadangkala, dengan tidak adanya pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan guru, kata-kata yang keluar dari pikiran anak-anak ini tidak begitu baik, bahkan cinderung kasar dan tanpa mengedepankan norma kesopanan. Terlebih mereka adalah anak-anak yang seharusnya kita ajaarkan adab dalam menyampaikan pendapat.

Fenomena tersebut cinderung mengarah pada pola-pola sosial yang negatif. Ditambah contoh-contoh yang kurang baik ditiru seperti para pegiat sosial media yang memiliki tato disekujur tubuhnya, ada lagi wanita yang berpakaian tak elok dilihat, suka berkata kasar dan malah menjadikan kata-kata mereka sebagai sesuatu yang terlihat keren dimata anak-anak. Teknologi tak mampu membatasi hal-hal seperti ini masuk kedalam pikiran anak-anak kita. Namun kita para guru inilah yang harus memfilter konten-konten seperti ini dari akses peserta didik.

Tidak disitu saja, ada banyak lagi pengaruh negatif yang memiliki potensi merusak generasi muda kita pada saat ini, khususnya para siswa yang ada didalam fase remaja. Dengan akses yang sangat mudah mereka bsia menemukan hal-hal yang diluar batas seperti narkoba, kekerasan, dan asusila. Sangat mengerikan jika kita lihat dari sisi negatif. Jadi, sisi ini harus menjadi perhatian yang ekstra bagi seluru unsur pendidik dari pemerintah sampai walikelas. Harus bersatu padu mencegah akses negatif dari dampak perubahan teknologi.

Tapi tunggu dulu, mari kita lihat sisi yang lainnya, dampak positif dari perubahan ini juga sangat banyak. Salah satunya adalah teknologi mampu membantu guru membuat siswa lebih memahami materi yang disampaikan. Dengan bantuan internet, siswa bisa mencari gaya belajar yang sesuai dengan keinginannya. Ada banyak metode yang ditawarkan untuk memudahkan siswa mendapatkan peajaran tambahan diinternet. Hanya dengan memberikan caption pada platform tertentu, mereka bsia mendapatkan tambahan informasi akan pelajaran yang tidak ia fahami disekolah.

Siswa juga akan menjadi sangat keratif dalam memecahkan masalah. Referensi yang bisa mereka cari bisa sangat beragam. Hal ini membuat porduktifitas dalam belajar mengajar bisa terwujud. Apalagi untuk sekolah-sekolah yang memiliki jaringan internet. Media-media belajar juga tersedia sangat banyak diinternet. Jika siswa ingin mengetahui suatu pengertian, ia bisa mnjelajah dan menemukan banyak definisi dari pelajaran yang ia inginkan tersebut. Sangat bermanfaat.

Melihat kedua hal yang disampaikan tersebut, tantangan yang harus dipecahkan oleh pendidik adalah bagaimana mengkombinasikan pembelajaran dan teknologi, dalam hal ini ICT. Jika kedua komponen ini mampu diformulasikan menjadi sebuah media, maka potensi peningkatan prestasi siswa sangat besar. Saat ini siswa dituntut menjadi orang yang terdepan dalam mendapatkan semua informasi. Mereka harus dengan kreatifitasnya belajar dari berbagai sumber daya yang tersedia. Apalagi saat ini banyak sekali aplikasi-aplikasi belajar yang bisa mereka manfaatkan dalam memecahkan masalah dalam pelajaran tertentu.

Ada berbagai macam sarana yang disediakan agar siswa bisa belajar secara mandiri, sebut saja youtube. Orang tua atau bahkan para guru harus memberikan pendampingan belajar melalui media ini. Karena youtube tak hanya memiliki konten yang positif, namun berisi juga konten negatif. Jika saja orang tua bisa mengarahkan, siswa akan bisa dengan sangat nyaman belajar dengan hanya menggunakan smartphone. Serta banyak lagi platform yang menyediakan konten belajar seperti quipper, ruangguru.com, zenius, jagobahasa.id dan masih banyak lagi.

Zaman sudah berubah, sekarang dunia serasa menjadi lebih dekat bahkan terasa tanpa batas. Banyak perusahaan yang tak mau mengikuti perubahan malah berujung pada kehancuran. Jadi, menghadapi zaman yang serba digital ini, para insan pendidik harus memahami pola belajar yang kekinian dan menjadi “content maker” agar anak-anak didik bisa mendapatkan pelajaran dengan maksimal dan menyenangkan. Selamat hari pendidikan nasional.

 

Oleh : Harry Utama Putra ***

*** Penulis ialah Praktisi pendidikan & founder jagobahasa.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *