Menakar Kesiapan, Perang Antar Generasi Yang Telah Memasuki Babak Baru

Anak Muda Opini
Gambar terkait
Source : Postry.com

Palembang, selasarsumsel.id – Tahun 2017 ini kita sempat dihebohkan dengan maraknya terjadi keributan antara driver transportasi online denga para supir angkot, ojek pangkalan dan supir travel konvensional. Perseteruan ini mulai marak terjadi sejak beberapa tahun terakhir dimulai dengan munculnya beberapa penyedia jasa layanan transportasi online. Diawal – awal fenomena ini hanya terjadi di beberapa kota di pulai Jawa, namun seiring berkembangnya layanan taksi dan ojek online ini dibeberapa daerah diluar pulau jawa, maka keributan antara dua fraksi transportasi ini bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Tidak cukup dengan beberapa keributan di jalan, kedua pihak pada akhirnya sama-sama merasa paling berhak mendapat keadilan dan mencoba memperjuangkanya di hadapan pemerintah setempat. Maka aksi-aksi dijalan, didepan kantor DPRD sampai di kantor-kantor Pejabat eksekutif macam Bupati dan Gubernur pun mereka lancarkan. Pemerintah mulai pusing dan kikuk mau menempatkan kaki keberpihakannya disisi mana.

Jalan tengah dengan negosiasi telah banyak ditempuh oleh banyak pihak, bahkan sekelas presiden pun pernah mengajak kedua belah pihak untuk bernegosiasi dimeja makan istana Negara. Ya pemerintah memang tidak bias memihak pada salah satu pihak, sehingga negosiasi adalah jalan yang dianggap paling tepat untuk mencapai satu kata yang di inginkan semua pihak ‘damai’. Tidak ada pilihan lain selain mendinginkan suasana sembari berharap pihak konvensional segera mendapatkan inovasi baru agar mampu bersaing dalam perebutan lembar-lembar rupiah agar asap dapur  terus mengepul.

Jika dianalisis secara seksama, fenomena online Vs konvensional yang terjadi antara trasnportasi online dengan para supir konvensional ini hanyalah satu indikasi awal saja, karna diluar fenomena ini banyak sekali fenomena lain tentang tumbangnya usaha-usaha konvensional yang mulai tergantikan dengan cara – cara khas generasi Z, dan ini menandakan bahwa perang antar generasi baru saja memasuki babak baru.

Kita pasti mengingat berita tentang ditutupnya beberapa gerai Matahari dan Ramayana pada tahun ini, dan yang terakhir oktober lalu Lotus telah mengkonfrmasi bahwa mereka akan menutup 100 gerainya. Silahkan hitung sendiri berapa ribu karyawan yang kemudian kehilangan pekerjaan karena penutupan besar-besaran Departmen store yang sempat begitu ramai dan hits di era-nya.

Meskipun menurut banyak ahli tumbangnya beberapa Departmen store ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Dari banyaknya penyebab tumbangya toko konvensioanal ini, kemunculan online shope adalah hal yang kemudian menarik untuk di diskusikan. Teknologi telah mengubah banyak hal, dari mulai pola komunikasi, gaya hidup, pola pergaulan social, sampai kemudain merubah peta pergerakan ekonomi kita. Kita tidak menampik bahwa matahari store, Ramayana, lotus adalah department store yang sangat besar dan memiliki cabang dan gerai dimana-mana,bagaimana mungkin mereka bias tumbang? Jawabanya adalah teknologi.

Penguasaan teknologi memegang peranan penting dalam persaingan ekonomi yang semakin keras ini. Dan mari perhatikan dengan seksama sebuah fakta menarik bahwa ternyata salah satu perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring terbesar di Indonesia  dirikan oleh seorang pemuda yang berusia 33 tahun. Gojek baru enam tahun meramaikan jagad transportasi di Indonesia namun sudah mampu menghegemoni.

Bagaimana dengan para pendiri online shop  yang kemudian membuat banyak department store raksasa mulai gulung tikar satu-persatu. Sebut saja William Tanuwijaya yang dikenal sebagai Pendiri Tokopedia bersama Leontinus Alpha Edison. Beliau juga kelahiran tahun 80-an sama seperti Nadiem makarim pendiri Go-jek. Bahkan achmad Zaky yang baru berusia 31 tahun (kelahiran 1986) menjadi tokoh muda yang diperhitungkan karna kejeniusanya menjadikan Bukalapak.com sebagai situs online shop yang diperhitungkan.

Ada apa dengan generasi 80-an? Generasi ini  sering disebut dengan generasi Y ( generasi yang lahir antara 1981-1994) memiliki penjelasan sebagai generasi yang mulai banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online. Tak heran ketika generasi ini tumbuh dewasa, penguasaan teknologi dan internet menjadi keunggulan utama mkereka dalam beronovasi.

Kita tidak bias memungkiri sebelum Go-jek muncul, sebelum tokopedia dan bukalapak Berjaya, para pelaku utama bisnis di negeri ini adalah generasi-generasi lama yang kita kenal dengan generasi X (lahir 1965-1980)  dimana Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, dan tv kabel. Penyimpanan data nya pun menggunakan floopy disk atau disket.

Pada akhirnya kita memahami bahwa gap antar generasi itu benar-benar ada dan berdampak nyata. Sekalipun pada suatu masa kedua generasi ini hidup bersama dalam satu lingkungan, generasi yang lebih dulu lahir akan sulit mengikuti dan mayoritas gagap dalam menyesueikan diri dengan zaman. Hal ini dapat kita saksikan berapa banyak ayah – ibu kita yang kemudian faham mengoperasikan website, mempunyai akun instagram atau sekedar mengoperasikan Microsoft excel?

Maka ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi generasi Y  ( milenial) dan generasi Z (generasi Net) bahwa dimasa depan bisa jadi lebih kejam lagi. Mau tidak mau, siap tidak siap generasi berikutnya yang disebut dengan generasi Alpha (lahir dari tahun 2011-2025) jelas akan jauh lebih unggul lagi darinpada generasi kita. Lebih dari sekedar membicarakan inovasi dan bisnis semata, perkembangan zaman dan peralihan antar generasi tentu menciptakan pola komunikasi sosialn yang semakin individual.

Gambar terkait
Generasi media sosial tapi anti sosial ( source : Bizztor.com )

Bisa kita saksikan sekarang, bagaimana teknologi media sosial membuat yang dekat menjadi jauh dan yang jauh justru menjadi begitu dekat. Bagaimana dengan pola komunikasi dan pola interaksi social di generasi mendatang, akankah anak-anak dimasa mendatang masih mengenal dengan istilah sopan-santun, atau masihkah aka nada budaya cium tangan, pamitan dan kebiasaan-kebiasaan yang di era generasi kita sekarang ini pun mulai luntur. Apakah kita siap menghadapi semua tantangan itu dimasa depan? Maka karakter dan value adalah barang langka yang harus kita pertahankan di semua lapisan zaman.

Jepang telah membuktikan ditengah gempuran modernisasi dan majunya teknologi, mereka masih mampu menjadi bangsa yang tetap menjaga budaya-budaya dan nilai-nilai luhur mereka.  Itu karena ada satu hal yang terus mereka pertahankan yang disebut dengan ‘karakter’. Bangsa yang berkarakter akan terus memegang teguh cirri khasnya. Indonesia selayaknya tetap menjaga karakter khasnya yang menjaga adat ‘ketimuran’ yang menjunjung nilai-nilai etika dan moral.

Pergulatan antar generasi telah memberikan pelajaran penting betapa kerasnya persaingan yang terjadi dewasa ini. Tahun 2017 telah memberikan cerita dan pesan kepada para generasi muda agar selalu siap dan tidak gagap akan perubahan. Dengan semua fenomena itu, pertanyaanya siapkah kita bersaing ditahun 2018 ?

 

***

BAYU APRILIAWAN

( PM Beasiswa Aktivis Nusantara  VII, Wakil Presiden Mahasiswa Unsri 2017, Blogger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *