Lembaga Kajian CDCS Angkat Tema Soal Masa Depan Gerakan Mahasiswa di Era Revolusi Industri 4.0 dan Arus Politik Kepentingan 2019

Anak Muda Berita Daerah Mahasiswa

Palembang, selasarsumsel.id – Lembaga kajian CDCS menggelar kajian mingguan dengan tema “Masa Depan Gerakan Mahasiswa di Era Revolusi Industri 4.0 dan Arus Politik Kepentingan 2019” pada minggu (16/12/2018), bertempat di Jalan Joko, Talang Semut, Palembang. Dalam kajian rutin kali ini, hampir semua perwakilan organisasi kemahasiswaan yang ada di Sumatera Selatan hadir, diantaranya Aliansi BEM se-Sumsel, KAMMI Daerah Palembang, PMKRI Cab. Palembang, HMI MPO Cab. Palembang Darussalam, IMM UMP, dan FKMPI Sumsel.

Dalam ulasannya, Nikmatul Hakiki selaku Presiden Mahasiswa Unsri 2018, yang juga sekaligus koordinator Aliansi BEM se Sumsel mengatakan bahwa efisiensi adalah satu kata yang mewakili Revolusi Industri, yang menyebabkan terjadinya peralihan dari tenaga manusia menuju tenaga mesin berbasis internet. Keunggulannya terdapat pada produksi masal dan harga barang menjadi murah. Namun disatu sisi ada banyak orang yang kehilangan lapangan pekerjaannya karena tergantikan oleh mesin.

“Maka, memperhatikan Sumber Daya Manusia adalah salah satu aspek utama yang harus dilakukan pada era ini. Agar sektor-sektor lain dapat diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Darmawan dari HMI MPO Cabang Palembang Darussalam mengungkapkan bahwa Revolusi Industri diibaratkan sebagai pedang yang harus dikendalikan. Sebagai tools untuk memberikan pencerdasan dan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.

“Gerakan mahasiswa seharusnya jadi icon bagi masyarakat, agar setiap permasalahan yang terjadi pada akar rumput bisa diadvokasi dan kepentingan rakyat diperjuangkan. Tema Revolusi Industri 4.0 sendiri begitu menarik untuk dikaji apalagi bila disandingkan dengan politik kepentingan 2019, selain karena hal ini merupakan dua pembahasan besar. Disatu sisi kondisi ini terjadi secara bersamaan di zaman sekarang dan mau tidak mau harus dihadapi oleh mahasiswa” ungkapnya.

Berkenaan dengan politik kepentingan 2019, baik HMI MPO maupun Aliansi BEM menanggap bahwa mahasiswa harus mampu bersatu melawan tirani, sebab selama masih ada tiran gerakan mahasiswa akan tetap ada.

Hal yang berbeda disampaikan oleh Kelvin selaku ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cab. Palembang. Ia menyampaikan bahwa gerakan mahasiswa harus memiliki kepentingan. Dan dalam bergerak tidak hanya aksi turun kejalan sebagai solusi perbaikan bangsa.  Ia menyatakan bahwa dengan konsep internet of things yang dibawa oleh Revolusi Industri 4.0, mahasiswa bisa membuat gerakan seperti petisi online yang sederhana tapi memiliki efek dan dampak yang begitu luas.

“Gerakan mahasiswa harus punya kepentingan, yaitu kepentingan rakyat. Namun tidak hanya Aksi yang bisa kita lakukan, pemanfaatan sosial media juga harus diperhatikan. Seperti fenomena gugatan seorang perempuan terhadap iklan di televisi yang dibintangi oleh kelompok penyanyi artis luar negeri. Dengan petisi online tersebut, permasalahan tersebar secara masif dan memberikan dampak yang begitu luas” pungkasnya.

Sementara itu Iwansyah selaku ketua umum KAMMI daerah Palembang menyebutkan, permasalahan terbesar saat ini pada gerakan mahasiswa adalah hilangnya arah gerakan. Mahasiswa sekarang lebih mementingkan diri pribadi daripada kepentingan umum.

“Mengembalikan kepedulian mahasiswa harus dilakukan, agar mereka dapat ikut berpartisipasi dalam gerakan kebaikan yang dibuat oleh mahasiswa. Kemudian merumuskan kembali arah gerakan mahasiswa dengan melihat berbagai perubahan dan tantangan zaman, akan membuat gerakan mahasiswa lebih memiliki taring dan daya dampak terhadap masyarakat” pungkasnya.

Ketika ditanya soal isu lokal yang saat ini terjadi di Palembang seperti Pergub nomor 74 tahun 2018 tentang pencabutan Pergub nomor 23 tahun 2012 tentang Tata cara Pengangkutan Batu Bara Melalui Jalan Umum, kemudian fenomena banjir di kota Palembang, penurunan harga karet dan sawit, serta lemahnya impelementasi Perda nomor 16 tahun 2011 tentang Retribusi Pengelolaan Parkir di kota Palembang, hampir seluruh organisasi kemahasiswaan sepakat bahwa isu lokal harus menjadi garapan gerakan mahasiswa kedepan dengan penguatan tentang kajian setiap isu dan eskalasi gerakan yang jelas.

Dalam kajian ini disambut dengan pernyataan dan harapan besar dari para peserta agar gerakan mahasiswa dapat kembali menunjukkan perannya bagi bangsa khususnya di Sumatera Selatan serta ikut membantu mendiseminasi setiap hal berkenaan dengan Revolusi Industri 4.0 kesemua daerah secara seimbang yang saat ini terjadi ketimpangan antara desa dan kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *