Balihonya Untuk Siapa Mas ?

Opini Politik

Palembang, selasarsumsel.id – Ditahun-tahun politik saat ini, berbagai manuver politik mulai diperlihatkan oleh partai-partai politik, konon mereka bilang sebagai bentuk memanaskan mesin partai.

Untuk memanaskan mesin partai berbagai media pun digunakan, entah siapa sasaran yang akan dituju kita pun tidak mengerti. Pernak pernik berbagai aktifitas kegiatan, bahkan sampai statemen politik menjadi bahan memanaskan mesin partai.

Unik memang kondisi politisi di Indonesia, memanaskan mesin partai hanya dilakukan jelang pemilu. Pasca pemilu, kemudian diapakan itu mesin. Dibiarkan berkarat atau dibiarkan berdebu. Bagi saya upaya yang dilakukan tidak lain hanya bentuk dari euforia kekuasaan takut akan kehilangan kekuasaan.

Dari sisi marketing mungkin bisa dinilai efektif, tapi dilihat dari kesinambungan struktur partai itu sangat tidak efektif. Masih untung ada pilkada serentak, walaupan itu hanya sebatas ajang transaksional atau aji mumpung pilkada, jauh dari ideal lebih pada prosedural.

Ada dua kemungkinan masyarakat akan menilai. Kita bisa ambil contoh pemasangan baliho seorang ketua umum yang besarnya melebihi papan white board. Pesan yang dimaksud pemasang ingin menunjukkan dirinya dan partainya layak untuk dipilih tanpa memperhitungkan track record dirinya selama ini.

Tentu berbeda dengan masyarakat. Masyarakat yang menilai memiliki dua kecenderungan pertama akan mendatangkan simpatik tentu dengan alasan subyektifitas yang melihat. Itupun patut disyukuri.

Usni Hasanudin, Pemerhati sosial politik (Dok. selasarsumsel.id)

Kedua, akan bernilai negatif jika yang melihat memandang dari track record. Seperti halnya PPP, sebagai partai Islam waktu pilkada dki mengusung ahok. Baliho atau apapun bentuknya hanya akan mengingatkan memori masyarakat bahwa orang yang terpampang adalah orang yang mendukung berbeda aqidah dengan partainya.

Setali mata uang ibarat buah simalakama baliho akan berdampak pada partainya. Bagi pemasang tentu berharap mendatangkan simpatik masyarakat, tapi saya memandang justru sebaliknya.

Bagaimana cara menetralisir kondisi tersebut. Sangatlah tidak berlebihan kalau saya katakan itu akan mubazir apapun rasionalisasinya. Bagi wajah yang terpampang akan merasa syur sendiri, apalagi jika datang pujian dari kelompoknya.

Sesungguhnya tidak sederhana itu, ketika tidak terbelah, PPP terus mengalami penurunan apalagi ini mesin (struktur) masih pecah dua. Sulit secara nalar saya kalau masyarakat akan menerima PPP seperti era Orde Baru, tapi yang terjadi sebaliknya.

Lalu bagaimana, upaya untuk islah dan mengembalikkan PPP dalam pemurrnian nilai islam adalah solusi untuk menghindari perpecahan lebih dalam dan untuk menghilangkan stigma PPP adalah partai semangka.

Sebagai bagian akhir, baliho itu apakah akan menenggelamkan PPP lebih cepat atau justru sebaliknya. Lalu untuk siapa baliho itu? Kita lihat jawabannya di 2019.

***

oleh : Usni Hasanudin

( Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik, Staf Pengajar pada Univ. Muhamadiyah Jakarta serta kandidat Doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *