Angela Merkel Merampungkan Tugasnya

Opini

Oleh Rahmat Farizal (Presiden Mahasiswa UNSRI 2017, Peneliti Lembaga Pemikir Strategis CDCS)

Dunia dalam pigura sejarah sepertinya tidak akan pernah lupa menyematkan nama Angela Merkel sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia. Setidaknya begitulah penghargaan yang diberikan oleh Majalah bisnis kenamaan asal Inggris, Forbes, yang mendaftar nama Merkel dalam peringkat kedua ‘Orang Berpengaruh di Dunia’ setelah Vladimir Putin. Majalah ini juga tercatat memberikan puluhan kali penghargaan kepada Merkel sebagai ‘Wanita Terkuat di Dunia’. Tidak hanya Forbes, salah satu majalah terpopuler AS, TIME, juga memasang foto Merkel di cover majalahnya dengan lebel sebutan ‘Leader of The Free World’, pada tahun 2015.

Saat dunia memandang sebelah mata keterlibatan wanita diranah pemerintahan, Merkel tampil sebagai Kanselir Jerman pertama seorang wanita. Dan tak tanggung-tanggung 13,5 tahun (empat periode) kini sudah ia jalani amanah tersebut sampai hari ini. Namun yang menarik bahwa secara pribadi Merkel bukan tipikal pemimpin yang power full a.k.a strong leader, ia lebih akrab sebagai ‘Common sense’. Sejak menjabat sebagai pemimpin, relatif tidak ada yang berubah dari kehidupannya. Bahkan pakaian serta mutiaranya adalah penampilan yang biasa ia kenakan sebelum menjabat sebagai Kanselir.

Karir politik Merkel juga terbilang cemerlang, sejak terjun kedunia politik tahun 1989, ia menjadi wakil juru bicara Partai Demokratischer Aufbruch. Kemudian dengan cepat pada tahun 1994 ia menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Keamanan Reaktor Nuklir di bawah kepemimpinan Helmut Josef Michael Kohl dan mendapat julukan ‘das madchen’ yang berarti menteri termuda sekaligus anak emas Kohl. Setelah kekalahan Kohl pada pemilu tahun 1998, Merkel melanjutkan perjalanan politiknya di Partai CDU (Christlich Demokratische Union). Dan pada tahun 2000, ia menjadi pemimpin oposisi terbesar di Jerman dari partai ber-aliran kanan ini yang berakhir dengan keterpilihannya sebagai Kanselir Jerman pada tahun 2005.

 

Ibu dari “Eropa”

Sepak terjang Merkel sebagai Kanselir Jerman menjadi begitu fenomenal ketika di tahun 2010 ia berhasil membawa Jerman keluar dari krisis ekonomi yang membayangi kawasan Eropa sejak tahun 2000. Tangan dingin Merkel yang membuat kebijakan propasar dan reformasi ekonomi menyelamatkan Jerman dari krisis. Sekali tiga uang, gagasan moncer Merkel dalam bidang ekonomi menjadikan dirinya mendapatkan gelar baru sebagai ‘Ibu dari Eropa’.

Seperti pemimpin-pemimpin dunia yang membuat sebuah karya besar untuk menyelesaikan banyak hal, yang secara otomatis juga menyelesaikan masalah internal dalam negeranya. Merkel juga tak kalah apik dalam meramu strategi. Pembawaannya yang low profil namun memiliki pemikiran yang kokoh itu mampu menciptakan sebuah gagasan tentang “Zona Fiskal Eropa”, yang melindungi Uni Eropa dari keterjatuhannya, patut diakui bahwa ia telah mampu menunggangi badai. Sebagai negara dengan perekonomian terkuat di Uni Eropa, ia bersama pemimpin UE, mengambil langkah strategis menjaga nilai mata uang Euro, kemudian terkait dengan hutang yang menimpa negara-negara UE ia menyepakati penambahan dana siaga untuk bailout dari 500 miliar euro menjadi 800 miliar euro atau sekitar USD 1 triliun, memangkas pembayaran obligasi Yunani kepada pihak swasta, melakukan rekapitulasi perbankan di kawasan UE yang bermasalah, dan lain sebagainya.

Gejala badai ekonomi di kawasan Eropa sebetulnya telah terdeteksi sejak rasio hutang Yunani yang pada tahun 2000 sebesar 77%, naik secara drastis menjadi 170% di tahun 2012. Tidak hanya itu, meningkatnya hutang negara karena defisit anggaran terus menyebar ke wilayah lain : Portugal, Irlandia, Prancis, Spanyol, bahkan Italia mengalami kondisi yang hampir sama. Seperti tulisan Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. dan Rosa Kristiadi M.Comm yang berjudul “Krisis Ekonomi Eropa: Terus Berlanjut”, Rasio hutang Irlandia terhadap PDB mencapai 103%, padahal di tahun 2000 hanya sebesar 36%. Begitu pula dengan Portugal dimana rasio hutang pemerintahnya mencapai 113% di tahun 2012. Kondisi ini jelas bertentangan dengan aturan Maastricht Treaty, dimana dinyatakan dalam aturan ini bahwa hutang negara tidak boleh lebih dari 60% dari PDB dan defisit maksimal 3% dari PDB. Teorinya, jika melewati angka itu, akan menciptakan ketidakstabilan ekonomi kawasan. Besarnya hutang negara di kawasan Eropa membuat Yunani, Portugal dan Irlandia kesulitan membayar utangnya. Sehingga menimbulkan krisis ekonomi Eropa.

Gelombang krisis ekonomi Eropa tidak selesai sampai disitu, belakangan ini sejak Inggris melalui kebijakan brexitnya keluar dari Uni Eropa dan tidak menggunakan mata uang euro dalam setiap transaksinya, krisis politik di Italia, ditambah kolapsnya Yunani karena hutang. Membuat Jerman secara ekspilisit menjadi penopang utama ekonomi Uni Eropa.

Sebetulnya gelar ‘Ibu dari Eropa’ bukan saja karena berbagai manuver ciamik Merkel yang menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri dan ekonomi kawasan, disisi lain kebijakan politik luar negeri Jerman yang membuka pintu gerbang masuknya imigran ke negara tersebut juga menjadi atensi bagi dunia internasional. Sejak menjadi penerima imigran terbesar di dunia yakni 43,5% dari jumlah total imigran dunia, hampir 1,1 juta jiwa imigran telah masuk ke Jerman. Kebijakan menerima masuknya imigran ini pun tetap dipertahankan sampai dengan saat ini. Bahkan jumlah populasi di Jerman mencapai rekor tertinggi sebesar 83 juta jiwa. Tentu kebijakan ini tidak serta merta bermotif “kemanusiaan”, Jerman pada kenyataannya juga tengah mengalami krisis angkatan muda (sarjana) berusia produktif untuk mampu menjalankan industri dan memutar roda perekonomian negara. Sehingga hadirnya imigran adalah bagian dari strategi Merkel memberikan suaka pada para imigran sekaligus mendayagunakan mereka sebagai tenaga kerja.

Meski kebijakan ini oleh sebagian pihak dinilai keliru dan digunakan pihak oposisi untuk mendelegitimasi kekuasaan Merkel, namun ia sekali lagi berhasil menunggangi badai dan setidaknya ia telah melakukan manajemen konflik yang baik untuk semakin meningkatkan nasionalisme dan indeks demokrasi di negaranya.

Akhir Kekuasaan Angela Merkel

Tahun 2021 agaknya akan menjadi akhir dari kekuasaan Merkel yang telah memimpin Jerman selama empat periode, sinyal itu semakin jelas terlihat ketika pada tanggal 17 Juli 2019 yang lalu, Uni Eropa mencatat sejarah baru setelah Ursula Gertrutd Von der Leyen terpilih sebagai Presiden Komisi Eropa, menggantikan Jean-Claude Juncker. Yang menarik, terpilihnya Von der Leyen juga tidak terlepas dari peran serta Merkel. Perempuan kelahiran Brussels ini sebelumnya merupakan Menteri Pertahan pada kabinet Merkel, dan selalu membersamai sang Kanselir di dalam kabinet selama 13,5 tahun.

Tidak hanya Von der Leyen, Merkel juga memproyeksi perempuan lain bernama Annegret-Kramp Karrenbauer (AKK) yang mendapatkan julukan “Merkel Mini”. AKK dilantik sebagai Menteri Pertahanan penganti Von der Leyen. Hubungan AKK dan Merkel juga begitu akrab dan saling mendukung, AKK telah berbakti di Partai CDU selama 18 tahun dan saat ini diamanahkan menjadi Pemimpin Partai CDU juga berkat dukungan Merkel. Tradisinya, Pemimpin CDU secara otomatis akan dicalonkan sebagai Kanselir.

Merkel tengah menyiapkan mereka sebagai pemimpin masa depan Jerman, Merkel paham betul bahwa keberhasilan sebuah kepemimpinan ialah ketika pemimpin selanjutnya lebih baik dari pemimpin saat ini. Nasionalisme tidak mengenal ungkapan ‘saya lebih baik’ sebab sebuah negara besar pada hakikatnya lahir dari akumulasi kepemimpinan. Dan Merkel tidak memilih sembarang orang untuk menggantikannya.

Harus diakui Merkel telah berhasil menekan “ketamakannya” untuk menjadi penguasa ‘seumur hidup’, Seperti jalan yang ditempuh Soekarno dan diktator lainnya atau aktor politik kekinian seperti Putin dan Erdogan. Secara sadar Merkel sebetulnya memiliki semua tools untuk melakukan amandemen terhadap Undang-Undang. Dan gelar wanita hebat yang membawa Jerman menjadi negara ekonomi terkuat di Eropa yang diberikan rakyatnya juga merupakan modal yang cukup melanggengkan kekuasaannya.

Namun disinilah kelas politisi ulung, kedewasaannya dalam berpolitik, kecemerlangannya dalam meramu strategi, ketegasannya dalam membuat kebijakan ‘substansial’, serta jiwa king makernya sebagai seorang mentor politik untuk membuat legacy melalui penyiapan regenarasi kepemimpinan adalah satu kesatuan yang utuh dimiliki oleh seorang Angela Merkel, yang mungkin belum tentu dimiliki oleh pemimpin besar lainnya di dunia. [ ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *